Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Minggu, 01 Juni 2014

... dan Mei pun berlalu

Separuh perjalanan menyusuri lorong waktu
Kadang terantuk, meski tak jatuh
Bahkan gelak jadi obat mujarab tuk tertawakannya
Hey, mari berhitung...
bukankah mujur tak pernah berpaling jauh?
Ia selalu ada di setiap jeda
ketika alpa juga asa ganti mendera
ada setangkup doa di setiap sujud di malam gulita
Lalu, di dini hari ketika terbangun dari lelapku
kudapati genggam jemari
dan seulas senyum menyambut hari
Di luar, kudengar gerimis asyik saja sendiri
basahi bumi hingga ke akar teki
Ah, rupanya ini pagi pertama di bulan Juni
dan Mei begitu saja berlalu....

Bontang, 1 Juni 2014
*catatan pagi di tempat tinggalku yang terletak di tepi hutan tak jauh dari tepi laut.


Rabu, 28 Mei 2014

Di Pucuk Randu

Di pucuk randu,
Tetes hujan satu-satu
Menderas tanpa ragu...

Lalu rumputpun basah,
Tanah kerontang berubah warna
Tunas tak lagi merana.

Pada langit yg abu
Kepak kecil riang menari
Ilalang tersenyum memandang langit
Kelak, ketika kuncup mekar
dan pepohonan bersemi
Surga yang hilang akan kembali.

*harapan di tingkah rintik hujan.

Minggu, 25 Mei 2014

Keping

Pagi masih tersenyum ramah
Angin pun menyentuh daun cemara
Setangkup doa, sekeping rindu
Berpadu di ruang kalbu

Selasa, 15 April 2014

Bike camping @ Pantai Mutiara - Samberah

Ini petualangan seru di bulan November yang lalu. Tepatnya tgl 23-24 November 2013, tapi baru sempat diupload sekarang. Yah, lebih baik terlambat daripada tidak bukan? Silahkan menyimak!
Begini ceritanya, eng ing eng....

Bike camping @ Pantai Mutiara - Samberah
Nah, belum lama mengikuti jambore sepeda gunung di Tenggarong, Kang Cepy sudah mengajak bike camping bersama group BBC di pantai Mutiara Samberah.
Ikut? Jelas dong.... Kesempatan kemping seperti ini tak kan kulewatkan. Bersama Dhiya kami menyiapkan berbagai kebutuhan selama kemping. Kupikir arena kemping terletak di tepi pantai dengan tempat parkir kendaraan yang tak jauh dari lokasi kemping.
Tapi rupanya tidak seperti yang kami duga. Pantai mutiara harus kami datangi dengan menyebrang laut menggunakan speed boat maupun jetski. Alhasil, cuma beberapa barang yang bisa kami bawa. Tenda, pakaian renang, beberapa perbekalan, juga sepeda.

Abi sibuk pasang tenda


Sementara tenda teman2 dari Samarinda sudah berdiri
Matahari hampir terbenam, air laut cukup pasang. Cuaca cerah. Harusnya ku-klik shutter kamera untuk mengabadikan. Sayangnya barang-barang bawaan harus kami bereskan dan kami harus mondar-mandir mengangkut keperluan. Alhasil, sampai di pantai Mutiara hari sudah petang. Boro-boro mau foto-foto, tenda harus segera didirikan. Belum lagi menyiapkan makan malam dan menata tempat agar nyaman untuk berkemah. Alhasil... ga sempat deh foto-foto, padahal cuaca sore tadi cerah banget loh. Sayang sekalee ya....

Menghabiskan malam tanpa hujan *untunglah...
Api unggun tak jua padam sampai fajar menjelang.
Ada teman-teman dari komunitas sepeda DAMN Samarinda, ada juga teman-teman dari komunitas sepeda Muara Badak. Ditambah kami dari Bontang, cukup seru suasana di tengah pekat malam dan debur ombak. Api unggun pun semarak membuat hangat suasana. Entah sampai jam berapa mereka ngobrol dan begadang. Aku sih bada' isya langsung tepar tidur di dalam tenda.

Nah, 4 ibu ini yg care urusan perbekalan...
Menunya menggoda...
Sarapan dulu sebelum gowes biar kuat :D
Keesokan harinya, kami menghabiskan waktu di sekitar tenda. Menyiapkan ikan bakar untuk sarapan. Sementara para pesepeda bersiap untuk keliling pulau. Usai sarapan, capcus deh mereka. Estimasinya sih mereka cuma sebentar menyusuri pantai, tapi.... sampai matahari meninggi, mereka tak kunjung pulang. Kebiasa-aaan!!!

Sebagian asyik bersepeda menyusuri pantai


Yg suka jetski ataupun hobi jeprat-jepret juga hayuu...
Anak-anak juga happy...
Eh, bukan suatu kebiasaan ding.... tapi ternyata ini lebih dikarenakan ranjau-ranjau kecil yang bertebaran di pantai. Salah sendiri... sudah tau sepeda gunung, lah kok dipaksa jalan di pasir pantai. Itu kan menyalahi kodrat. Gunung dan pantai jelas sesuatu yang berbeda. Coba saja bayangkan... sudahlah kayuhan menjadi berat oleh pasir, ditambah ranjau-ranjau berbentuk kerang-kerang kecil yang tajam, maka.... bocorlah ban sepeda satu persatu. Jadi kerjaan kan ketika harus menambal ban sepeda bergantian sepanjang perjalanan pulang menyusuri pantai? Pantas saja!
Ditambah dengan bekal air yang dibawa tak sepadan dengan jarak gowes yang harus ditempuh hihihi... sempurna sudah rasa haus yang menerpa kerongkongan. Kebayang deh hausnya mereka begitu tiba di perkemahan,
Untung saja salah seorang dari kami punya inisiatif membuatkan minuman mega mendung. yang suegeeeerrrr.... wah, langsung tandas! Kalau tidak diingatkan, bisa-bisa habis satu iglo diminum sendiri oleh si atlet sepeda dari Samarinda hahaha..

Langit yg begitu biru...
Air laut telah lama surut. Sampai menjelang ashar tidak juga pasang. Alhasil sore itu kami harus menyebrang bolak-balik dengan menyeret speed boat karena dangkalnya air sambil membawa sisa-sisa perbekalan dan peralatan berkemah juga sepeda. Tapi itu tak mengurangi kegembiraan kami menghabiskan sisa hari.

Waktunya angkut-angkut menyebrang...
Sebelum akhirnya terjebak air yg surut.... dorong..!
Air lautnya benar-benar surut...
Bada Ashar kami bersiap pulang ke Bontang, berpisah dengan teman-teman dari Samarinda dan Muara Badak, untuk berharap suatu hari bisa mengulang kegembiraan seperti ini.
Petualangan kemping yang menyenangkan....meski kami masih harus menempuh jarak, menyusuri jalur pipa dan pesisir untuk sampai kembali di kota tercinta BONTANG.

Jalur pipeline yg aduhai ...
Berpadu dg jalan hauling dan tronton batubara
Finally.... Bontang my lovely town.

Special terimakasih buat Om Fadli dan Mb Dijah yg sudah menebar racun petualang pada kami.
Juga teman-teman baru di komunitas sepedagunung yang welcome banget. Sukaaaaaa.!!!