Pada masanya, tiba jua saat menutup pintu rapat-rapat
berlalu tanpa niat berpaling
tak ingin mengetuk lagi
tak kan pernah
....bulir bening menitik jatuh di kaki, entah untuk apa
hanya sejenak, lalu....
"Aku pergi," pamitnya pada hampa
tanpa rasa
Bontang, 27 Juli 2010
Tentang sebuah angan yang entah kapan menjadi nyata. Tapi mimpi ini kan ku ukir satu-satu, meski pun harus kumulai di usia yang tak lagi belia. Kan kutinggalkan jejak, goresan karya-karya kecilku, untukmu.
Selasa, 27 Juli 2010
Kamis, 08 Juli 2010
Episode kecil di Executive Lounge Sepinggan
Waktu menunjukkan pukul 10 waktu Indonesia Bagian Tengah. Masih 2 jam
untuk menunggu keberangkatan pesawat Pelita Air Service ke Bontang. Tak
lama terdengar panggilan untuk penumpang pesawat Citylink Garuda GA-061
tujuan Surabaya agar segera memasuki pintu A3.
Seorang bapak bersama 3 anaknya yang sama2 menunggu di executive lounge segera berdiri dan keluar melalui pintu Executive Lounge yg sepi. Sementara petugas segera memanggilnya dan meminta untuk melewati pintu A3. Sedikit percakapan yang sempat kusimak.
Seorang bapak bersama 3 anaknya yang sama2 menunggu di executive lounge segera berdiri dan keluar melalui pintu Executive Lounge yg sepi. Sementara petugas segera memanggilnya dan meminta untuk melewati pintu A3. Sedikit percakapan yang sempat kusimak.
Sabtu, 22 Mei 2010
Suatu Hari di Pelataran Parkir Gedung Sekolah
Matahari telah meninggi. Perayaan milad di sebuah sekolah TK hampir
saja berakhir. Mobil kami parkir ketika satu-persatu pengunjung mulai
meninggalkan lokasi acara. Tinggal segelintir orang yang masih bertahan
menyaksikan sisa acara. Bazar yang digelar pun sudah mulai sepi. Kami
putuskan untuk pulang saja karena acara hampir berakhir.
Sabtu, 17 April 2010
Nyanyian Cemara
Perempuan itu, apa maunya? Dara menghela nafas. Kalau mengikuti kata hatinya yang paling dalam sebenarnya Dara enggan untuk menemuinya, setelah apa yang pernah terjadi antara mereka bertiga di masa lalu. Tapi pantaskah ia sekasar itu? Untuk sisa-sisa persahabatan yang pernah mereka jalani bersama rasanya tak pantas memperlakukan Adis seperti seorang musuh besar.
Sabtu, 06 Maret 2010
Di Tepian Mahakam
“Aku cuma ingin melihat sungai Mahakam Kak. Kapan kita ke sana?” ujar Rida istriku akhir-akhir ini. Permintaan yang sederhana sebenarnya, tapi merupakan hal yang paling aku hindari selama hidupku. Tapi bagaimana menjelaskannya? Aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan alasan sebenarnya. Jangankan menerangkan, membayangkannya saja aku sudah bergidik. “Jangan Rida! Tolong jangan sekarang, aku belum siap” pintaku dalam hati, hanya dalam hati. Peristiwa tragis itu kembali membayang di pelupuk mataku. Peristiwa yang tak akan pernah kulupa sepanjang hayatku.
Langganan:
Postingan (Atom)