"Kau menyapaku? Setelah sekian lama? Untuk apa?"
Nyatanya tak sepatah pun butuh jawaban. Sebab luka selalu meninggalkan nyeri. Bahkan bekasnya tak mudah hilang.
Btg, 061011
Tentang sebuah angan yang entah kapan menjadi nyata. Tapi mimpi ini kan ku ukir satu-satu, meski pun harus kumulai di usia yang tak lagi belia. Kan kutinggalkan jejak, goresan karya-karya kecilku, untukmu.
Kamis, 06 Oktober 2011
Ketika Menerima Sebuah Kekalahan
Sedikit berbagi uneg-uneg di hati.
Tepuk tangan membahana ketika puisi perjuangan karya Sapardi Joko Darmono selesai kubaca. Mantap aku menuruni tangga panggung. Beberapa orang yang tak kukenal menyambutku dengan ucapan selamat dan kata-kata pujian. Aku tersanjung dan yakin bakal masuk 10 besar finalis “Lomba Pembacaan Puisi Perjuangan” dalam rangka 50 tahun Indonesia Merdeka *PD amat!
Minggu, 02 Oktober 2011
Puisimini: "Pinta"
Menatap cakrawala senja
Sejuta sesal menoreh sukma
Akankah luruh semua dosa?
Duhai Pencipta, ampuni hamba
10.53 wita; 2 Oktober 2011; Bontang
Sejuta sesal menoreh sukma
Akankah luruh semua dosa?
Duhai Pencipta, ampuni hamba
10.53 wita; 2 Oktober 2011; Bontang
Minggu, 28 Agustus 2011
Ketika Lebaran Tiba
Oleh : Ade SM
Ranti memandang amplop di tangannya, tebal dan tentu saja bukan jumlah yang sedikit. THR yang didapat suaminya memang terhitung lumayan. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, Ranti hanya memegang lembaran uang tersebut tanpa bisa menggunakannya. Ada sederet nama yang musti mendapat jatah, mulai dari adik-adik suami, paman, bibi, keponakan, sepupu, tukang kebun dan nama-nama lain.
Ranti memandang amplop di tangannya, tebal dan tentu saja bukan jumlah yang sedikit. THR yang didapat suaminya memang terhitung lumayan. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, Ranti hanya memegang lembaran uang tersebut tanpa bisa menggunakannya. Ada sederet nama yang musti mendapat jatah, mulai dari adik-adik suami, paman, bibi, keponakan, sepupu, tukang kebun dan nama-nama lain.
Rabu, 03 Agustus 2011
Wish Me Luck
Pagi menjelang subuh saat kami tiba di hotel 'Dyar International'
setelah perjalanan panjang yang melelahkan,
Bontang-Balikpapan-Singapore-Dubai-Jeddah-Madinah. Koper-koper merah
masih bertumpuk di dekat pintu. Aku melepas jam tangan dan jilbabku lalu
kutaruh di atas meja. Sementara suamiku meraba kantung-kantung baju dan
celananya. Wajahnya agak menegang. Tentu saja aku jadi curiga ketika ia
melakukannya berulang-ulang.
Langganan:
Postingan (Atom)
