Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Sabtu, 19 Oktober 2013

Ketika Ayang Menekuni Hobi Lamanya

Ayangku mulai menekuni hobi lamanya, BERSEPEDA. Bukan sesuatu yang luar biasa kan?
Sepeda gunung itu lebih bermanfaat dikendarai toh daripada mangkrak di gudang.
Jadi, ketika pagi itu Ayang minta izin untuk bersepeda, kuiyakan saja. Apalagi ketika kutanya,"Rutenya kemana?"
"Guntung!" jawabnya.

Aku tenang-tenang saja. Kuperhatikan selama ini ia tak pernah menghabiskan waktu lebih dari 2 jam untuk berkeliling kota Bontang dengan sepedanya, kecuali dua minggu lalu.
Iya, dua minggu yang lalu rute yang dilaluinya keluar jalur biasanya.


Ia menuju Bontang Lestari, menyusuri pesisir hingga ke Pantai Kersik dan berujung di Gunung Menangis poros Bontang-Samarinda.
Lewat tengah hari baru sampai di rumah. Tapi aku tak begitu khawatir karena Ayang mengabarkan perjalanan yang ia lalui lewat telpon genggam.

Tapi rupanya pagi ini kejadian sama terulang lagi. Dua jam berlalu, ia tak kunjung pulang. Pasti rutenya keluar dari biasanya juga nih. Mungkinkah ke pantai Kersik lagi dengan jalan berbeda? Mungkin juga.... tapi biarlah.... pikirku. Mudah-mudahan sebelum tengah hari ia telah sampai di rumah.

Matahari makin meninggi. Tunggu punya tunggu, adzan Dhuhur telah berlalu, tak jua muncul batang hidungnya. Kemana gerangan? HPnya tidak aktif, di luar jangkauan. Mungkin tak ada sinyal disana. Hati mulai cemas memikirkan, tapi diri berusaha tenang. Anak-anak mulai bertanya-tanya persis dua minggu yang lalu, "Abi kemana sih Mi?"

"Sepedahan..." jawabku tenang.

"Masa sepedahanan sampai siang begini sih," sahut mereka.

Iya juga sih... sepedahan kemana, kuat nggak, ada apa-apa di jalan tak? Berbagai pertanyaan mulai mengganggu pikiran meski coba kutepiskan, sementara matahari mulai tergelincir ke Barat. Tak ada tanda-tanda kabar darinya. Hubungan telpon pun tak ada.

Sampai adzan Ashar berkumandang, tak jua ada kabar. Cemas? Tentu saja.
Siapa sih yang tak cemas menanti sang kekasih yang tak kunjung kabarnya... *sungguh yang ini bukan lebay. Pergi pagi hingga hampir petang tak tentu rimbanya.
Duh Gusti, lindungi dia selalu.... pintaku dalam hati sambil terus berusaha menghubungi telpon genggamnya. Acara arisan Sunda sore itu yang seharusnya bisa kuhadiri kuabaikan.

Mahgrib hampir tiba, mata mulai berkaca-kaca. Kemana gerangan ayangku?
Apakah sesuatu telah menimpa dirinya....
Di batas ketakberdayaan tiba-tiba deru sebuah kendaraan berhenti di depan rumah, tak lama kemudian ucapan salam berkumandang, "Assalamu'alaikum..."
Sepeda dan tubuh berkeringat itu baru saja turun dari pick-up.
"Abi ke Gua Angin loh Mi... Taman Nasional Kutai. Wuih... rutenya...!!!" ceritanya dengan bangga.
Aku diam saja.

Wajah lelahnya seharusnya kusambut dengan pelukan dan ciuman, tapi pada kenyataannya airmataku menganak sungai dan kemarahan meluap begitu dasyatnya...
Astagfirulloh... seharusnya aku lega melihatnya utuh di  depan mata.
Seharusnya aku menyambutnya dengan sapaan mesra,
seharusnya...
seharusnya....
seharusnya....
tapi yang kulakukan bukan yang seharusnya.
Untunglah ia mengerti betapa kemarahan ini terwujud akibat cemas yang tak terkira.

Duh Ayang.... Guntung dan Hutan TNK Sangatta adalah dua hal yang sangat jauh berbeda.
Lain kali kalau hendak melintasi hutan TNK ya pakai persiapan yang matang dan beri kabar berita lah.... jangan bikin sport jantung begini.
"Ya ampuuuunnnn Umi, kalau di hutan ada sinyal sudah pasti Abi nelpon Umi lah sayaaaaanngggg...."
Hehehe.. Iya juga ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar