Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Senin, 20 September 2010

Pembeli adalah Raja, apa iya?

Toko itu sebenarnya cukup lengkap dibandingkan toko-toko lain yang ada di kota ini. Di toko itu tersedia bahan-bahan untuk membuat cake lengkap dengan assesoriesnya maupun dus untuk mengemasnya. Tokonya cukup besar dengan jumlah pelayan yang memadai. Sang Pemiliknya kulihat biasa berkeliling dalam toko sambil mengawasi para karyawannya melayani pembeli. Dengan demikian pelayanan kepada pembeli tentunya akan bertambah baik bukan? Hm, harusnya demikian. Tapi beberapa kali aku mengunjungi toko itu, selalu saja ada hal yang kurang memuaskan terjadi.



Salah satunya adalah ketika aku membutuhkan tepung coklat blackforest. Biasanya aku membeli 5 bungkus dengan harga Rp.10.000/bungkus. Sebenarnya aku ingin membeli lebih dari itu, tapi kulihat tanggal kadaluarsanya sudah dekat. Jadi aku memutuskan untuk membeli secukupnya saja sampai datang stock yang baru. Ketika bulan sudah berganti dan tepungku sudah habis, aku kembali ke toko tersebut. Namun di raknya tak kudapati tepung itu. Oh, ternyata stock yang baru belum datang. Dengan nada berharap aku bertanya pada pelayannya, "Kapan tepung yang baru akan datang?"
“Wah, nggak pasti Bu!” jawab pelayan.

Aku mengamati tumpukan plastik di sebuah dus. “Lha, itu kan tepungnya!” seruku gembira. Tapi sayang, yang tergeletak di situ adalah tepung yang sudah dekat tanggal kadaluarsanya. Tentu saja aku urung untuk membelinya. Dua hari kemudian, aku kembali ke toko tersebut bertanya tentang hal yang sama. Tepung sudah berganti kemasan dengan plastik yang berbeda tanpa tanda merek dan tanggal kadaluarsa. Kutanya pada pelayannya, apakah ini tepung yang baru? Ia mengangguk. Lalu aku membeli 2 bungkus dan membayarnya di Kasir. Kusodorkan uang Rp. 20.000,- ternyata aku masih mendapat kembalian Rp. 3.000,- Wah, tepung baru kok malah murah harganya ya? pikirku sambil pulang. Jangan-jangan.... ah, tak baik berburuk sangka. Beberapa hari setelah itu, aku kembali membeli barang serupa. Kali ini alhamdulillah, ada label dan ada tanggal kadaluarsa yang masih lama, dan tentu saja harganya sudah normal kembali Rp. 10.000,- Amaaannn, pikirku. Karena tak mungkin aku membuat kue pesanan orang dengan bahan yang kuragukan masa kadaluarsanya.

Di lain waktu, aku membeli beberapa keperluan menjelang lebaran.Mengamati harga-harga yang tertera di rak masing-masing yang kulihat cukup murah dibandingkan harga di toko lain, maka kuputuskan membeli dalam jumlah banyak. Namun sesampai di kasir ternyata harganya tidak sesuai dengan yang tertera di rak, betapa kuciwanya diriku. Kalau cuma selisih sedikit ya ndak apa-apa sih, tapi kalau selisihnya cukup banyak? Mana aku belinya nggak cuma satu lagi! Oh, noooo.... Sejak itu, aku tak percaya lagi pada harga yang tertera di rak ataupun di kemasan. Dan, aku membeli secukupnya saja, daripada nanti aku malu nggak bisa bayar selisih harganya hehehehe... mau ditaruh dimana mukaku?

Yang paling kuingat, duluuuuu.... pernah aku membeli beras di toko itu sambil mengamati televisi yang sedang menayangkan berita (kejadian ini sudah sangat lama, saat toko itu masih belum sebesar sekarang). Si empunya duduk di bagian kasir sambil menyimak berita kenaikan 9 bahan pokok. Saat aku membayar, serta merta harga beras yang kubeli dinaikkan sesuai berita di televisi. Aku hanya bisa menggeleng tak berdaya setengah nggak ikhlas melihat kelakuan si pemilik toko.

Hm, ternyata ketelitian memang harus dilakukan sebelum meninggalkan toko itu. Saat itu, manakala sang pemilik toko masih menggunakan mesin hitung sederhana aku membeli 1 kaleng susu bubuk (1000 gram) dan beberapa keperluan lain yang jumlahnya tidak banyak. Tapi kenapa harga yang kubayar 3 x lipat harga biasanya? Selidik punya selidik, ternyata di notanya tertulis 3 kaleng susu... alamak, untung protesku diterima dan sang pemilik memohon maaf atas keteledorannya.

Kurasa itu bukanlah sebuah kesengajaan. Mungkin nasibku saja yang selalu kurang mujur jika berbelanja di toko itu. Buktinya toko itu semakin hari semakin berkibar dan bertambah besar sampai seperti sekarang ini. Berarti pelanggannya banyak kan? Dan aku pun tetap saja berbelanja di toko itu membeli beberapa kebutuhanku. Tapi semua kejadian yang kualami itu membuatku selalu berhati-hati dan “teliti sebelum membeli” (jadi selalu ingat pesan sponsor TVRI jaman baheula).

Teliti, sudah. Hati-hati, sudah. Lalu, apalagi? Pelayanan! Hal satu ini yang sering membuatku harus bersabar. Berapa kali aku memerlukan kotak dari kardus maupun plastik mika untuk mengemas cake, selalu memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkannya. Kadang pelayan yang satu menyerahkan pada pelayan yang lain, sementara pelayan yang diserahi tugas tidak mengerti apa yang kubutuhkan dan tidak tahu harganya. Hadeuhhhh.....!!! Mungkin pelayan baru ya? Sehingga seniornya dengan bebas menyuruhnya. Maunya sih aku carii sendiri kebutuhanku di tumpukan itu, tapi tumpukannya campur aduk mak! Ukurannya campur baur.

Mau cari kotak ukuran 30 cm, eh... tutupnya nggak ketemu. Begitupun sebaliknya. Dan parahnya lagi, si pelayan dengan cueknya menarik dan mengembalikan ke dalam rak secara acak barang yang tidak sesuai tanpa membereskannya sesuai ukuran. Wah, gimana nih? Apa nggak tambah susah milih nantinya? Apa nggak rusak barangnya diperlakukan seperti itu? Apa nggak rugi pemiliknya? Tapi dipikir-pikir sebenarnya apa peduliku ya? Toh itu bukan tokoku, dan akhirnya aku pun dapat juga kotak yang kubutuhkan, walau waktuku banyak terbuang hanya untuk menunggu si pelayan memilih dan mencari barang yang kumaksud. Sabar euy, hiburku dalam hati.

Terakhir, aku memerlukan kotak kue ukuran kecil 100 lembar. Mustinya kan tinggal ambil satu bungkus yang berisi 100 lembar ya... Tapi, karena bungkusnya sudah terbuka, si pelayan harus menghitung lagi. Aku harus menunggu lagi dengan sabar... capek deh! Begitu sampai di rumah, ternyata tutupnya kelebihan 4 lembar. Alhamdulillah lebih, coba kalau kurang... bisa-bisa keluar tanduk di kepala nih kalau musti bulak-balik ke sana lagi dalam waktu yang sempit. Wah, pantas saja sering tak lengkap tutupnya saat membeli, habis si pelayan ceroboh.

Apa aku tipe pembeli yang rewel? Kurasa tidak. Ini bukan keluhan (masa???), ini hanyalah kesan yang tertinggal setiap aku membeli di toko itu. Padahal, pepatah mengatakan “Pembeli adalah Raja”. Yaaaa... boro-boro. Aku tak ingin berlagak jadi raja, aku hanya ingin mendapatkan barang kebutuhanku dalam kondisi baik, serta pelayanan yang memuaskan. Kalau anda yang menjadi pemilik toko itu apa yang akan anda lakukan?


`~ade~ 20 September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar