Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Jumat, 01 April 2011

Di Akhir Reuni

“Sungguh, bunda tak ingin ikut?” tanyaku sekali lagi sebelum aku masuk ke taxi jemputan. Ranti menggeleng, bibirnya menyungging seulas senyum.

“Ayah baik-baik di sana ya.. Jangan lupa sampaikan salam buat teman-teman, terutama Dinda yang sedang tertimpa musibah,” jawab Ranti sambil mencium tanganku.



Aku mengecup kening Ranti. Rambut-rambut halus di keningnya tak lagi dimainkan angin nakal seperti dulu karena kini jilbab menutupi kepalanya. Aku pamit dan taxi pun melaju menuju bandara. Hanya butuh waktu 2 jam untuk sampai ke kotamu, Dinda. Kota tempat kita menghabiskan masa kecil hingga remaja, kota tempat menyimpan sejuta kenangan indah tentangmu.



Menemukan dirimu kembali adalah bagai mimpi. Bisa bercanda dan bercerita denganmu lagi walau hanya lewat dunia maya, bagai mengurai benang-benang memori yang lama terkubur di hati. Dan sampailah aku pada keinginan untuk menemuimu. Berdalih rencana reuni teman-teman sekolah, sesungguhnya aku begitu ingin berjumpa denganmu. Untungnya lagi, Ranti istriku tak ingin ikut. Ia lebih memilih untuk tidak meninggalkan anak-anak dan bisnis kue yang sedang dirintisnya. Aku tersenyum. Begitu mudahnya Ranti iba. Hanya dengan kisah sedih tentang kehidupanmu, ia rela menguras sebagian tabungannya untuk menolongmu Dinda. Istri yang baik bukan? Lalu, kenapa aku musti mengejar dirimu? Aku tak tahu. Sudah 2 hari aku di kota ini. Makan malam bersamamu di kafe biru. Menyusuri jalan-jalan kenangan walau tanpa bergandeng tangan, serasa kembali muda 20 tahun.

Di antara gelak canda rekan-rekan semasa sekolah, hidup seakan tanpa beban. Makanan dan minuman tak hentinya mengalir. Cerita kenangan masa lalu terkuras semua. Sepertinya tak ingin hari berganti sehingga acara harus berakhir.  Tiba-tiba hpku berdering. Nomor hp Ranti di layar.

“Ya bunda?” tanyaku.

“Ayah belum tidur? Kok bising amat!” seru Ranti.

“Iya, ini masih kumpul dengan teman-teman di karaoke,” sahutku jujur.

“Jangan terlalu malam Yah. Besok acara reuni akbarnya kan? Ayah nggak ngantuk?” tanya Ranti.

“Bentar lagi selesai kok Bun,” aku menjawab. Bercerita sedikit tentang keadaan kami di karaoke dan mengakhiri percakapan dengan salam dan kecupan mesra seperti biasa. Jam sudah menunjukan 11.30 malam. Sejujurnya aku ngantuk, rasanya ingin menguap terus. Aku tak suka menyanyi. Biasanya jam segini aku sudah bercengkrama dengan istriku di kamar kami. Tapi di sini, teman-teman masih asyik melantunkan lagu-lagu kenangan jaman sekolah dulu. Berjingkrak-jingkrak seperti anak muda. Mereka semua tak ada yang membawa pasangan. Semua membujang, baik yang perempuan dan yang lelaki. Oke, 3 di antara temanku memang masih membujang, tapi Rudi, Hadi dan  Omar? Mereka sudah berkeluarga, tapi karena pekerjaan di kota lain mereka biasa terpisah dan hanya di akhir pekan berkumpul dengan keluarga di kota asal. Lalu aku? Hey, aku juga punya istri. Kenapa aku duduk-duduk di sini bersenang-senang. Bagaimana perasaan Ranti jika ia tahu aku duduk bersama mantanku jaman sekolah dulu?

“Ngantuk Ben?” Dinda menyentuhku lembut. Aroma parfumnya menggelitik syarafku.

“Dikit,” jawabku berusaha menahan kantuk.

“Nanti antarkan aku pulang ya Ben! Kau musti mampir di rumahku,” pinta Dinda sambil menyodorkan minuman. Segelas capucino menghilangkan kantukku. Hampir jam 2 malam kami baru selesai. Aku mengantar Dinda ke rumahnya di kawasan perumahan elit dan berjanji akan menjemputnya esok pagi ke acara reuni akbar.

Jam 08 pagi aku sudah duduk di teras rumah Dinda. Rumah yang nyaman dan asri. Di mana sisi kekurangan dan kisah pedih yang Dinda ceritakan bila chatting denganku? Tak kulihat sedikitpun kehidupannya yang susah.

“Rumah kakakku Ben,” terang Dinda tanpa kuminta. “Aku di sini menunggui rumahnya entah sampai kapan. Karena dia lebih suka tinggal di Surabaya.”

Aku mulai mengerti. Sebenarnya, walau suaminya telah meninggal Dinda hidup berkecukupan. Pekerjaannya sebagai sekretaris di perusahaan besar jauh lebih dari cukup untuk menghidupi diri dan anak semata wayangnya. Apalagi ia tak perlu memikirkan untuk membayar sewa rumah dan perlengkapannya, karena semua itu kakaknya yang menanggung. Hanya saja gaya hidupnya yang high class mau tak mau menyedot isi kantongnya. Bagaimana tidak? Kemana-mana ia terbiasa naik taksi. Makan malamnya selalu di restorant mahal. Pakaian, parfum dan perhiasan yang dikenakannya merk “gemerlap”. Seperti sore ini, seusai reuni akbar Dinda memintaku mengantarnya ke sebuah mall, ada yang mau dicari katanya. Aku menggeleng tapi tak berdaya menolak ajakannya, terbayang Rantiku yang sederhana. Yang pilihan baju-baju indahnya tak menguras isi kantongku.

“Ikuuuutttt!!!” teriak Andi tiba-tiba. Aku tertawa merasa terselamatkan. Sudah lama Andi naksir Dinda, jangan-jangan ada kaitannya dengan dirinya yang sampai saat ini masih membujang.  Kami berjalan beriringan di antara barang-barang bermerk terkenal. Sesekali Dinda menghampiri model pakaian teranyar sambil meraba halus kainnya dan bertanya, “Bagus nggak warna ini?” Andi antusias menjawab, sementara aku hanya memandang sambil berpikir, berapa gaji yang musti kuberikan seandainya Dinda istriku. Baru kemarin ia memborong barang-barang mahal. Aih, aku jadi teringat Ranti di rumah. Wanita cantik nan sederhana yang pandai mengelola keuangan keluarga. Kami hidup lebih dari cukup dan tak pernah mempunyai hutang. Anak-anakku tumbuh sehat dan aku mendapatkan semua yang aku butuhkan. Aku jadi merasa begitu bersalah, asyik bersenang-senang menemani teman lama sementara istriku berkutat dengan adonan kuenya di sebrang sana. Pikiranku melayang sehingga tak sadar ketika Dinda menepukku, “Ben, kamu melamun?”

“Ah, eh...,” salah tingkah aku jadinya.

“Pasti ingat orang rumah yaaaa?” tebak Andi. “Sudah gih belikan parfum yang ini, pasti istrimu suka,” saran Andi. Aku gelagapan, tapi tak urung kuambil parfum di tangan Andi. Hm... harumnya lembut. Pintar juga Andi memilih. Akhirnya aku mengambil 2 botol. Penuh harap Dinda menyelaku, “Yang satu untukku ya Ben.” Aku tersenyum.

“Kamu pilih aja sama Andi, yang ini dua-duanya untuk oleh-oleh istriku. Oh iya, maaf aku boleh duluan ya? Kupikir lebih baik kalian bersenang-senang saja berdua. Aku mau mencari pesanan istriku,” kataku sambil melirik counter di lantai bawah yang berisi peralatan-peralatan masak yang berkualitas. Sudah saatnya aku membeli mixer handal & oven cantik idaman istriku ketimbang menemani Dinda yang bukan apa-apaku, apalagi memberikan uang hasil keringat Ranti untuk Dinda? Hoho, sisi hatiku yang terdalam berontak. Aku masih waras. Sambil melangkah menuju tangga berjalan aku putuskan segera menelpon travel agen untuk menanyakan apakah aku bisa pulang malam ini juga dengan pesawat terakhir? Aku rindu istriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar