Hidup tak musti hebat. Sederhana pun bisa berarti ...

Rabu, 13 Mei 2015

Biduk-biduk (Day 3)

Malam terakhir di bulan Desember 2013. Sejak sore mbak Dijah sudah memesan bahan-bahan sate pada pemilik warung di sebelah penginapan. Kami berencana membakarnya sendiri. Sekeranjang buah pun sudah siap untuk disantap sebagai rujak.  Ngerayain tahun baru? Enggak juga sih!

Seekor anak penyu tersesat


Binatang apakah ini?


Oh ya, sudah 3 hari tinggal di Biduk-Biduk, kurasakan ada satu hal yang kurang. Aku tak pernah melihat seorang tukang bakso pun yang lewat. Padahal di jalan dan di pekarangan rumah penduduk kulihat sapi berwarna coklat bebas berkeliaran. Mungkin penduduknya lebih suka makan hasil laut  ketimbang daging ya? Keheranan ini kusampaikan pada mbak Dijah, tentang keinginanku menyantap bakso. “Ya sudah, besok kucarikan ya, De!” janji mbak Dijah.

Pemandangan tepat di depan tenda

Malam itu berlalu dengan rasa senang dan perut kenyang. Belum lagi jam 12 aku sudah tertidur pulas. Dhiya, Mirza dan Jabil ditemani si Bolang  anak pemilik penginapan asyik bermain kembang api (kami menyebutnya demikian karena wajah dan tingkahnya yg khas seperti para pemeran di si Bolang). Entah sampai jam berapa. Ketika aku terjaga, tahu-tahu suasana sudah lengang. Hening...  hanya debur ombak yang memecah pantai tepat di depan tenda.


Lalu... hujan pun turun dengan deras disertai angin kencang. Terjadi kegaduhan. Rupanya tenda Om Badak tertiup angin dan patah tiangnya. Malam itu mereka mengungsi ke kamar penginapan yang sudah kami sewa. Kamar yang satu dihuni oleh mbak Budis dan anak-anaknya. Sementara kamar satunya digunakan untuk para pria. Untung saja tendaku cukup kokoh. Tak setetes airpun merembes ke dalam tenda. Kami tidur dengan nyaman sampai pagi ditemani rintikan hujan.


Hari pertama di 2014. Para pria yang penasaran berkeinginan mengulang penjelajahan ke air terjun bidadari di  Teluk Sumbang yang jaraknya 7 km dari Kampung Suku Basap.  Mbak Budis dan putri sulungnya sepakat ikut. Si adik memaksa ikut, tapi ... dengan berbagai bujukan, akhirnya mau juga tinggal bersama kami untuk bermain di pantai.


Jadilah pagi itu kami berpisah. Kang Cepy, Om Luqman, Om Fadli, Om Magulici, Mbak Budis dan putri sulungnya menuju air terjun Bidadari.
Sementara aku, mbak Dijah, Keluarga Susan plus krucilnya bertamasya bersama keluarga besar Neneknya Mirza di pantai, menikmati ikan bakar dengan sambal khasnya SAMBAL MANGGA.




Ada yg berburu cacing


Oh iya, setiap pagi kami disuguhi sarapan oleh Ibu pemilik penginapan. Kadang mie goreng, bihun, kadang nasi ketan dan bawis goreng, lengkap dengan sambal mangga. Pemilik penginapan adalah seorang ibu yang telah ditinggal pergi suaminya selamanya. Tanpa sakit, tiba-tiba sang suami meninggal seusai main voly. Walau tanpa air mata, kesedihan jelas masih terbayang di wajah si ibu saat menceritakan kisahnya kepada kami. 

Untuk menghidupi anak-anaknya, si ibu mengelola penginapan dan 50 ekor sapi peninggalan suaminya. Ibu yang kaya sebenarnya, tapi terlihat sederhana. Si Bolang anaknya, jajannya sehari 60 rebu. Nilai rupiah yang besar untuk anak sekecil itu menurutku. Tapi tidak bagi mereka, karena memang harga barang-barang di Biduk-biduk lebih mahal dari harga di Bontang. Sebotol minuman teh dijual seharga Rp. 8.000,- Bensin yang waktu itu masih Rp. 6000, di Biduk-biduk seharga Rp. 10.000,- Jadi kalau di Bontang, kami membeli pertamax, disini kami hanya dapat membeli premium seharga pertamax.
Si Bolang
Hari itu, si Ibu pamit tak bisa melepas kami pulang esok hari, karena ia harus mengantar anaknya sekolah ke Samarinda. Lagi-lagi aku acung jempol buat si Ibu, pendidikan adalah hal utama meski harus menempuh jarak yang sangat jauh.

Oh, iya. Meskipun ada listrik dan tower sinyal, jangan harap hp mu dapat digunakan sepanjang hari disini. Hanya tempat-tempat tertentu yang sinyalnya kuat. Selebihnya, ya si hp nganggur karena di luar jangkauan. Listrik menyala di waktu malam saja. Mulai jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Jadi setiap sore menjelang, kami berebut untuk mencharge hp, power bank dan batere kamera.
Sambil ngobrol dengan si Ibu, sebuah motor lewat dengan muatan keranjang berisi rambutan. Kami menyetop dan membelinya. Satu ikat  Rp. 7.000,-

Abang pedagang rambutan
Rupanya si Abang penjual  rambutan yang bersuku Jawa itu bukan penduduk Biduk-Biduk. Ia tinggal di Lempake dan menempuh jarak berkilo-kilo meter menyebrang sungai hanya untuk menjual rambutan. Terus, berapa  ongkos menyebrang sebuah motor? Tanyaku pada si Abang. Rp.50.000,- untuk sepeda motor tanpa muatan. Rp. 75.000,- untuk yang bermuatan seperti ini sekali menyebrang. Aku tertegun. Untuk sekeranjang rambutan itu dia musti merogoh koceknya Rp. 150.000,- lebih.  Sebanding ga ya dengan pendapatannya dari berjualan rambutan itu? Aih, jadi malu deh mau nawar harga rambutannya si Abang. Tapi dasar si Abang baik hati, untuk 3 ikat rambutan, kami diberi discount Rp. 1.000,- 

Baca juga :
http://jejak-jemari.blogspot.com/2015/05/the-little-paradise-biduk-biduk-day-1.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar